Optometris, Spesialisasi dan Peluang Kerja di Era Society 5.0

Perkembangan teknologi saat ini tidak dapat dihindari karena tentunya membawa banyak kemudahan bagi setiap sisi kehidupan manusia. Salah satu contoh teknologi yang sangat erat dengan kehidupan sehari-hari manusia adalah gawai.

Gawai menjadi pilihan bagi manusia untuk berkomunikasi, berinteraksi, belajar, dan melakukan pekerjaan. Kehadiran teknologi yang satu ini benar-benar memudahkan hidup kita karena hanya dengan sekali sentuh jari, berbagai hal bisa terselesaikan tanpa perlu bersusah payah.

Entah kamu sadari atau tidak, kamu tidak bisa terlepas dari gawaimu di mana pun dan kapan pun. Bener kan? Namun, tahu nggak sih? Di balik semua kemudahan tersebut, ada bahaya yang mengancam lho!

Teknologi juga dapat membawa dampak negatif bagi manusia. Dampak yang paling utama akan langsung dirasakan oleh mata. Itu karena mata merupakan organ tubuh yang secara langsung terpapar oleh sinar biru dari layar gawai. Selain itu, akibat terus memaksa mata memantau layar gawai, otot-otot mata menjadi cepat lelah dan berdampak pada buramnya penglihatan.

Penggunaan gawai yang jaraknya lebih dekat ke mata juga menyebabkan fungsi kerja mata berubah secara paksa. Mata jadi lebih banyak digunakan untuk melihat jarak dekat dan dalam durasi yang lama. Hal ini berpengaruh pada penglihatan, di mana mata menjadi cepat lelah, kering, tidak fokus, serta mempercepat kenaikan miopia (rabun jauh).

Kondisi seperti ini tentunya tidak bisa dibiarkan. Ini adalah tahap awal menuju kebutaan jika tidak segera ditangani. Sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan ahli pada bidang tersebut untuk mendapatkan solusi yang tepat. Nah, pemeriksaan mata primer yaitu berupa pemeriksaan tajam penglihatan dan koreksi terhadap kelainan tajam penglihatan dilakukan oleh ahli yang disebut sebagai optometris.

Apa Itu Optometris?

Optometris adalah tenaga kesehatan yang membantu melakukan screening awal terhadap kelainan mata untuk selanjutnya dirujuk ke ophthalmologist (dokter spesialis mata).

Kelainan tajam penglihatan merupakan salah satu penyebab terjadinya kebutaan yang sebetulnya dapat dicegah (avoidable blindness). Dari data The International Agency for the Prevention Blindness (IAPB) tahun 2020, secara global, kelainan tajam penglihatan yang tidak terkoreksi menjadi penyebab kebutaan dan ditengarai jumlah kasus tertinggi adalah di kawasan Asia Tenggara.

Data penelitian Brien Holden Vision Institute yang dilakukan pada tahun 2016 juga menjelaskan bahwa, pada tahun 2050, hampir 50% penduduk dunia akan mengalami kelainan tajam penglihatan miopia, khususnya pada anak usia sekolah. Dari data penelitian tersebut, tentunya peran optometris sebagai garda depan program pencegahan kebutaan sangatlah penting.

Hal lain yang patut digarisbawahi adalah peran optometris sangat dibutuhkan oleh setiap manusia dalam berbagai tahapan usia, mulai dari kanak-kanak hingga usia senja untuk tetap dapat beraktivitas dengan baik.

Secara keseluruhan, pemeriksaan yang dilakukan oleh optometris belum dapat tergantikan oleh instrumen ataupun dilakukan dengan penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Itu karena seluruh proses pemeriksaan masih memerlukan interaksi dan sentuhan individual (human touch) guna mendapatkan koreksi yang optimal, terukur serta memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan serta gaya hidup pasien.

Perbedaan Optometris dengan Ophthalmologist

Ilmu Optometri ini bukan seperti Ilmu Ophthalmologi yang mempelajari mata dengan pendekatan Ilmu Biologi. Jadi, bisa dipastikan kalau bidang pekerjaannya juga berbeda ya.

Optometris bekerja untuk memeriksa kelainan atau kesalahan refraksi, mengukur, melakukan diagnosis, memilihkan solusi terbaik dengan memberikan alat bantu berupa lensa kontak, kacamata, loop, dan sebagainya. Sedangkan, dokter mata atau ophthalmologist bertugas memeriksa penyakit mata pasien dan melakukan operasi/tindakan bila diperlukan.

Optometris tidak sekedar mempelajari kesehatan dan kelainan mata, akan tetapi juga mempelajari penggunaan instrumen dengan  teknologi  yang modern untuk mendeteksi penyakit serta kelainan mata.

Dengan begitu, optometris mempunyai kemampuan melakukan pemeriksaan dan pengukuran mata secara detail dan menyeluruh. Hal ini sejalan dengan konsep di era society 5.0 yang mengandalkan manusia sebagai komponen utama untuk penggunaan teknologi modern.

Cara Menjadi Optometris

Tahap awal yang harus kamu tempuh untuk menjadi seorang optometris adalah menyelesaikan program pendidikan di Jurusan Optometri. Optometri adalah ilmu tentang penglihatan manusia sebagai fungsi dari mata. Peran mata dibahas dengan pendekatan Fisika atau lebih spesifik lagi disebut Ilmu Optik yang merupakan turunan Ilmu Fisika.

FYI, kampus yang memiliki Jurusan Optometri di Indonesia masih sangat terbatas. Untuk jenjang D4 atau sarjana terapan, kamu hanya bisa menemukannya di Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA).

Setelah menyelesaikan seluruh mata kuliah dan juga tugas akhir berupa skripsi serta dinyatakan lulus, seorang calon optometris  juga harus mengikuti Ujian Kompetensi. Itu karena pendidikan Optometri adalah pendidikan vokasi yang mana optometris harus dapat menetapkan keahlian dan keterampilan di bidangnya secara komprehensif.

Mengenal Jurusan Optometri

Jurusan Optometri adalah jurusan yang mempelajari tentang perawatan kesehatan mata, khususnya kelainan mata yang memerlukan koreksi. Jurusan terbuka untuk jenjang D3 dan D4 (sarjana terapan), tetapi perguruan tinggi yang menyediakan program ini masih sangat terbatas. Program D4 Optometri saja hanya ada 1 di Indonesia.

Tujuan utama dari dibukanya program ini adalah untuk memenuhi kebutuhan tenaga optometris di Indonesia yang jumlahnya masih sangat terbatas. Jumlah lulusan optometri (D3) yang tercatat saat ini digambarkan dengan perbandingan 9 orang optometris melayani 25.000 penduduk.

Sekalipun demikian, bukan berarti menjadi optometris itu menjadi satu-satunya pilihan karier lulusan Jurusan Optometri ya. Setelah lulus menjadi Sarjana Optometri, kamu bisa memilih untuk berkarier di berbagai sarana kesehatan baik milik pemerintah maupun swasta. Kamu juga bisa berkarier sebagai penanggung jawab optik dan menjadi profesional di bidang industri lensa, frame, dan lensa kontak. Selain itu, lulusan Jurusan Optometri juga bisa berkiprah di bidang akademis seperti dosen dan bahkan peneliti.

Keistimewaan lain dari Jurusan Optometri yaitu lulusannya bisa membangun usaha mandiri. Berbekal ilmu yang didapatkan, lulusannya dapat membuka klinik optik ataupun membangun usaha sendiri di bidang industri perkacamataan yang dapat disesuaikan dengan revolusi industri 4.0 saat ini.

So, sudah siap menjadi optometris?

Penulis: Widiastuti Eko Wulandari (Staf Prodi Optometri UKRIDA) & Mawardi Janitra
Editor: Tisyrin Naufalty Tsani