Yuk Gunakan Bahasa Indonesia dengan Baik Pada Tempatnya!

rsz_shutterstock_30983419

Bahasa Indonesia tentunya tidak buruk atau salah, tetapi penggunaan bahasa Indonesianya yang menjadi tidak baik karena digunakan tidak sesuai dengan situasi dan kondisi (formal atau nonformal) dan lisan atau tulisan.

Coba deh, saat kamu naik kendaraan umum (angkot misalnya) dan ingin berhenti di tempat tujuan yang berjarak lima meter lagi dan kamu bilang kepada sopirnya. “Bapak sopir, tolong dihentikan mobilnya di depan Mal Cijantung. Saya hendak turun di sana

Tapi, apa yang terjadi? Mobil justru melewati Mal Cijantung! Penggunaan bahasa Indonesia seperti itu sudah benar, tetapi belum baik karena tidak sesuai dengan situasi dan kondisinya. Cukup bilang, “Mal Cijantung kiri, ya! (sambil ketok angkot: tok, tok,tok).

Kamu boleh coba juga menggunakan Bahasa Indonesia baku saat ingin membeli sayur di pasar tradisional. “Bapak tukang sayur, berapakah harga satu ikat sayur kangkung ini?” Jadi aneh dan lucu bukan! Cukup katakan, “Pak, satu ikat harganya berapa?”(sambil menunjuk atau memegang kangkung yang akan dibeli). Sekali lagi, penggunaan bahasa Indonesia kamu sudah benar, tetapi tidak baik.

Kalau kamu ngobrol dengan teman-teman dalam komunikasi sehari-hari, gunakan bahasa Indonesia tidak baku dan istilah populer yang teman kamu juga ngerti. Misalnya:“Ahhh, kamu mah baper!” (bawa perasaan) Balas teman kamu. “Nggak sih, nyantai aja keles (kali)!”

 Terkadang kalau teman bicaramu satu suku bisa terselip kata-kata dari bahasa daerah kamu. “Duh, saya mau hitut!” (buang angin dari lobang pelepasan)

Namun, jika kamu berkomunikasi di tempat umum dengan orang yang beragam daerah jangan gunakan kata-kata dari bahasa daerah.

Nah, kalau kamu berada dalam situasi dan kondisi formal–baik ketika menggunakan bahasa lisan maupun tulisan–maka gunakan bahasa Indonesia yang baik , yakni bahasa Indonesia baku. “Bahasa Indonesia yang tidak benar, minimal mencakup tiga kelompok arena, yakni di arena makna, bentuk, dan nalar” (Mulyono, 2012:97). Misalnya: (1) tidak benar makna: tidak bergeming (bergeming dimaknai “bergerak” padahal maknanya “tidak bergerak”, jadi “tidak tidak bergerak”) seharusnya ungkapan tersebut tetap bergeming, (2) tidak benar bentuk: dipungkuri (seharusnya dimungkiri), memporakporandakan (seharusnya memorakporandakan), dan (3) tidak benar nalar: Yang membawa HP mohon dimatikan! (yang dimatikan orangnya bukan HP-nya) seharusnya HP mohon dimatikan!

Arena makna, bentuk, dan nalar merupakan sebagian ciri dari kalimat baku. Kamu juga sudah belajar kalimat baku bukan? Ya, ciri kalimat baku minimal mempunyai fungsi subjek dan predikat. Misalnya, Dalam goa itu menyimpan harta karun. (tidak bersubjek)  seharusnya Dalam goa itu tersimpan harta karun. Ciri lainnya adalah memiliki kesejajaran misalnya Adik belajar baca dan menulis, seharusnya Adik belajar membaca dan menulis. Kalimat baku tidak pleonasme atau tidak boros menggunakan makna misalnya Mereka saling berpelukan seharusnya Mereka berpelukan. Sudah disebutkan tadi kalimat baku harus benar nalarnya (logis) dan jelas maknanya. Pengguna bahasa masih saja pakai ungkapan yang tidak jelas maknanya atau bermakna ganda (ambigu) dan sekaligus tidak logis, misalnya Rumah Makan Padang (rumah memakan Kota Padang), tahu isi Sumedang (tahu yang isinya kota Sumedang), ayam bakar Jakarta (ayam membakar Kota Jakarta). Waduh!

Ciri kalimat baku yang lainnya tentu harus sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Kaidah yang diatur antara lain pemakaian huruf kapital, huruf miring, tanda baca, penulisan angka dan lambang bilangan, singkatan dan akronim, penulisan partikel, dan gabungan kata. Saya tidak sampaikan ketentuannya  secara rinci dalam artikel ini. Kamu bisa lihat EYD aja ya!  Kamu tentu pasti tahu kalau kalimat baku haruslah menggunakan kata baku, yakni kata yang sudah distandardisasikan penulisannya sesuai dengan perkembangan zaman. Ayo ngaku, pasti kamu masih menulis kwitansi bukan kuitansi, sekedar bukan sekadar, antrian bukan antrean, mencontek bukan menyontek, hahaha. Baiklah saya kasih daftar kata baku dan tidak baku yang masih banyak salah penulisannya nih. Yuk, kita lihat!

BAKU TIDAK BAKU BAKU TIDAK BAKU
aktif aktip manajer manager
aktivitas aktifitas manajemen managemen
apotek apotik mengubah merubah
analisis analisa mengesampingkan mengenyampingkan
antre antri menyontek mencontek
asas azas memesona mempesona
atlet atlit mengkritik mengeritik
autopsi otopsi metode metoda
aerobik erobik mesti musti
cenderamata cinderamata motif motip
definisi defenisi, nasihat nasehat
desain disain November Nopember
ekstrem ekstrim rezeki rejeki,  rizki
film filem, pilem risiko resiko
fotokopi photo copi roboh rubuh
formal formil saksama seksama
hakikat hakekat silakan silahkan
hipotesis hipotesa sistem sistim
hierarki hirarki standardisasi standarisasi
ijazah ijasah subjektif subyektif
insaf insyaf sejarawan sejarahwan
izin ijin syukur sukur
jadwal jadual telentang terlentang
kaidah kaedah telepon telfon
karisma kharisma teoretis teoritis
karier karir tradisional tradisionil
konduite kondite trotoar trotoir
konkret kongkrit tim team
kuitansi kwitansi varietas varitas
lembap lembab wujud ujud
lubang lobang zaman jaman

Jadi, alangkah baiknya, lamu gunakan bahasa kata baku dalam tulisan ilmiah ya. Kamu juga jangan marah-marah kalau di jalan banyak penulisan kata yang tidak baku. Misalnya: tempat fhoto kopy, ya memang tidak baku, tapi kamu pasti tahukan kalau tempat itu menjual jasa penggandaan dokumen? Apotik Sehat, seharusnya Apotek Sehat , kamu juga tahukan kalau tempat itu menjual obat-obatan dan vitamin. Nah, paling penting, fungsi bahasa sebagai alat komunikasi sudah sampai dan kamu pun ngerti.

Ayo kawan, gunakan bahasa Indonesia dengan baik pada tempatnya!


 

Ardiansyah

PriaIMG-20150902-WA0003 ramah yang menjadi tutor Bahasa Indonesia di Quipper Video ini lahir di Jakarta tahun 1972. Pak Ardi, sapaan akrabnya, lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Setelah  lulus kuliah, dia langsung mendirikan sekolah bersama kawan-kawannya di Tangerang sambil bekerja di perusahaan retail nasional sebagai manajer selama 10 tahun.  Tahun 2000, akhirnya dia memutuskan diri untuk fokus menjadi pengajar bahasa Indonesia di salah satu sekolah elite di Jakarta dan tutor di beberapa bimbingan belajar ternama di Indonesia. Di sela-sela kesibukannya, tidak lupa tutor ini menyempatkan waktu untuk melakukan hobinya, yaitu membuat sketsa, melukis, menulis puisi, dan artikel. Mengajar baginya adalah sebuah hobi.