Intip Momen Menegangkan Jelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia!

Quipperian mungkin buat kamu aneh kenapa masih Januari tapi sudah bahas proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia? Kenapa enggak Agustus saja?

Well, kalau artikel ini muncul di bulan Agustus mah mainstream banget. Lagian, banyak cerita seru bahkan enggak muncul di buku sejarahmu tentang momen-momen menengangkan jelang proklamasi. Jadi, kenapa enggak segera di-share!

Sebelum masuk ke cerita, gimana kalau kamu refresh dan ingat-ingat lagi pelajaran Sejarah tepatnya di masa krusial tahun 1945, untuk mengembalikan ingatanmu tentang peristiwa itu.

Di awal bulan, tepatnya pada 6 Agustus 1945, bom nuklir seberat 16,5 kiloton meluluhlantakkan kota Hiroshima dan tiga hari berselang menyusul bom seberat 20 kiloton memporakporanda Nagasaki.

Kabar pemboman itu sampai juga di telinga pihak republik. Mereka, terutama para pemuda progresif, mendorong para tokoh untuk bersikap dan segera memproklamasikan kemerdekaan.

Jepang melunak. Sehari setelah Bom Hiroshima, Pemerintah Militer Jepang membubarkan BPUPKI dan menggantinya dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) untuk merealisasikan kemerdekaan.

Pihak Jepang pun menerbangkan Soekarno, Hatta, dan Radjiman menuju Dalat, Vietnam, bertemu Pemimpin Tertinggi Militer Jepang di Asia, Marsekal Terauchi, untuk membahas penyerahan kemerdekaan. Bagaimana isi pertemuan mereka?

1. Hadiah Ulang Tahun Hatta

Begitu tiba di Saigon (Ho Ci Minh City), Vietnam, Soekarno, Hatta, dan Radjiman melanjutkan perjalanan darat sepanjang 300 kilometer menuju Dalat. Rombongan lalu bertemu Marsekal Terauchi pada 12 Agustus 1945.

Posisi Jepang di ambang kekalahan sudah tak bisa disembunyikan lagi. Terauchi blak-blakan di depan Soekarno, Hatta, dan Radjiman menyatakan kapan pun Indonesia boleh merdeka, tergantung kinerja PPKI.

Terauchi menambahkan, Pemerintah Militer Jepang telah bersepakat menetapkan tanggal 24 Agustus 1945 sebagai tanggal pelaksanaan penyerahan kemerdekaan.

Mendengar pernyataan Terauchi, ketiganya begitu senang. Terutama Hatta, karena kabar gembira tentang kemerdekaan mencuat bertepatan dengan tanggal ulang tahunnya.

“Dalam hati kecilku, aku menganggap kemerdekaan Indonesia itu sebagai hadiah jasaku sekian tahun lamanya untuk kemerdekaan Indonesia,” kata Hatta pada memoarnya, Untuk Negeriku Jilid 3 sebagaimana dikutip dari historia.id.

2. Minta Merdeka Tanggal 15 Agustus

Kegembiraan rombongan Soekarno, bertolak belakang dengan para pemuda. Sjahrir dan para pemuda, setelah mendengar berita via radio penyerahan Jepang terhadap Sekutu, menginginkan Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan.

Para pemuda bahkan tak sudi menempuh jalan kemerdekaan melalui badan buatan Jepang, seperti PPKI. Beberapa pemuda, Chaerul Saleh, Sudiro, S.K. Trimurti, Sajuti Melik, dan lainnya berharap cemas menanti pesawat rombongan Soekarno.

Begitu Soekarno mendarat, para pemuda langsung meminta Bung Besar memproklamasikan kemerdekaan saat itu juga. Namun, Bung Karno meminta mereka bubar karena masih banyak Kempetai (Polisi Militer Jepang).

Para pemuda kemudian menggelar pertemuan. Hasilnya, menyetujui mengirim beberapa perwakilan untuk menemui Bung Karno. Wikana terpilih sebagai ketua utusan didampingi Soebagio Sastrosatomo, dan Chaerul Saleh.

Malam hari, sekitar pukul 21.30 WIB, tanggal 15 Agustus 1945, utusan pemuda menemui Soekarno di kediamannya.  Wikana meminta Soekarno segera membacakan proklamasi. “Apabila Bung Karno tidak mengumumkan kemerdekaan malam ini juga, besok akan terjadi pertumpahan darah,” ancam Wikana, seperti ditulis Asvi Warman Adam, dalam buku Bung Karno Dibunuh Tiga Kali? Tragedi Bapak Bangsa Tragedi Indonesia.  

3. Ketegangan Soekarno-Wikana

Suasana menegang. Mendengar ancaman itu, Soekarno, lanjut Asvi Warman, naik darah, berjalan menuju sang pemuda, dan seraya menunjuk lehernya, berkata, “Ini leher saya, seretlah saya ke pojok itu, sudahilah nyawa saya malam ini juga, jangan menunggu sampai besok.”

Wikana terkejut melihat kegeraman Soekarno. Ia memperjelas situasi. “Maksud kami bukan mau membunuh bung,” terangnya. “Melainkan kami mau memperingatkan, apabila kemerdekaan Indonesia tidak dinyatakan malam ini juga, besok rakyat akan bertindak dan membunuh orang-orang dicurigai dan dianggap pro-Belanda.”

Situasi makin panas. Pertemuan sempat diskors selama 15 menit, namun akhirnya tidak diteruskan. Mereka pun bubar menjelang sahur.

4. Diculik atau Diamankan

Setelah permintaan tak juga ditanggapi, para pemuda bersepakat untuk membawa Soekarno-Hatta keluar ibukota Jakarta. Menjauhkan kedua tokoh dari pihak Jepang.

Esok hari setelah perdebatan Soekarno-Wikana, para pemuda menjemput kedua tokoh di masing-masing kediaman. Kata para pemuda, menurut Asvi, karena tadi malam kemerdekaan belum juga diumumkan, nanti siang 15.000 warga akan menyerbu kota Jakarta.

Oleh sebab itu, Soekarno-Hatta harus dibawa ke tempat aman di luar kota sembari memimpin pemerintahan dari sana.

Wikana menjemput Soekarno pada pagi buta, sementara Sukarni menjemput Hatta. Mereka membawa kedua tokoh ke Rengasdengklok. Di sana, Dwi Tunggal tinggal di sebuah rumah milik seorang Tionghoa bernama Djiau Kie Song.

Menurut Hatta, seperti ditulis Asvi, tidak ada kegiatan penting selama di sana, selain beristirahat dan bergantian memangku Guntur, anak Soekarno.

Di Jakarta, para tokoh mulai panik mengetahui Soekarno-Hatta tidak ada di rumah. Muncul desas-desus keduanya diculik polisi Jepang. Setelah ditelusuri, mereka menemukan jawaban. Subardjo lantas ditugaskan menjemput Soekarno-Hatta pulang ke Jakarta.

5. Bung Karno Menolak Proklamasi Tanpa Hatta

Setiba di Jakarta, Soekarno-Hatta dan beberapa tokoh, baik dari golongan pemuda dan golongan tua berkumpul di rumah Laksamana Maeda. Mereka berkumpul merumuskan naskah dan persiapan proklamasi hingga lepas sahur, 17 Agustus 1945.

Soekarno sempat sakit ketika tiba di rumah. Badannya menggigil, suhu tubuhnya tinggi. Ia masih berbaring di kamar sampai beberapa tokoh mulai berdatangan ke rumahnya.

Ia menanyakan keberadaan rekannya. Namun, tak ada satu pun pihak berani menjawab keberadaan Bung Hatta. Beredar selentingan, Hatta ditangkap polisi Jepang.

Di luar rumah Soekarno, para pemuda dan pejuang lainnya telah berkerumun menanti pelaksanaan proklamasi. Bung Karno enggan memulai acara tanpa kehadiran Hatta.

Meski tetap dibujuk, Bung Besar tetap menolak. Dan setia menanti rekan terbaiknya. Tak lama, dari balik kerumunan, Bung Hatta muncul dan siap melaksanakan proklamasi. Proklamasi pun berlangsung.

Quipperian, itulah segelintir momen-momen menegangkan jelang proklamasi kemerdekaan kita hampir 74 tahun lalu. Kalau kamu yang jadi anak muda pada masa itu, akankah kamu sama berjuangnya dengan para pejuang di atas? Mudah-mudahan semangat nasionalisme dalam diri kamu tetap ada dan terus terjaga, ya. Sebab, para pejuang Indonesia enggak mudah membawa Indonesia untuk bisa jadi seperti sekarang. Buat kamu yang masih mau baca artikel menarik lainnya, kunjungi Quipper Blog saja, ya!

Penulis: Rahmat Ali

Begini Contoh Soal SBMPTN Sejarah tentang Proklamasi Kemerdekaan!