Cek Contoh Soal Sejarah Mengandung HOTS Ini dan Pembahasan Materinya!

Begitu mendengar kata HOTS alias Higher Order Thinking Skills, Quipperian pasti merasa agak kurang comfy. HOTS pada penyelenggaraan UNBK tahun lalu sempat membuat nilai para siswa menurun.

Kebanyakan siswa mengeluh tentang begitu sulitnya penerapan soal HOTS. Tentu kejadian kemarin harus dijadikan pelajaran dan perbaikan esok hari. Kamu pantang ngeluh kan, Quipperian! Yang pasti, kamu harus berpikir positif agar segala rintangan di dalam soal mudah kamu kerjakan.

Nah, sebelum masuk ke soal dan pembahasan, ada baiknya kalau kita sedikit membahas konsep HOTS. Definisi HOTS, menurut Alice Thomas dan Glenda Thorne pada artikel berjudul “How to Increase Higher Order Thinking” tahun 2009, merupakan cara berpikir pada level atau tingkat tinggi dibandingkan hanya sekadar menghafal atau menceritakan kembali suatu tema.

Basis konsep HOTS bersandar pada Taksonomi Bloom, dengan kategori atau tingkat pemikiran, seperti pengetahuan, pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. Bloom sesungguhnya mengincar tujuan pembelajaran ke dalam 3 ranah, kognitif atau keterampilan mental, afektif atau keterampilan emosional, dan psikomotorik atau keterampilan fisik.

Taksonomi Bloom kemudian diperluas Lorin Anderson dan David Krathwohl, menjadi; mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisa, mengevaluasi, dan menciptakan. Begitulah konsep HOTS.

Nah, berdasarkan penjelasan di atas, kali ini Quipper Blog mau mengajak kamu membahas contoh soal sejarah mengandung HOTS beserta pembahasan materinya. Pastinya, soal-soal di bawah ini akan sangat membantu kamu dan memberikan wawasan lebih. Penasaran? Langsung saja yuk kita cek di bawah ini!

Operasi Gagak

Suara pesawat Dakota dan Mustang milik militer Belanda memecah keheningan pagi langit Yogyakarta, sekira pukul 05.00. Dua pesawat itu tak hanya lewat, tapi juga memuntahkan bom. Lapangan udara Maguwo porak poranda. Puluhan orang taruna Angkatan Udara Indonesia, menurut Kasmiran dalam Pierre Heijboer pada De Politieonele Acties De Strijd om Indie 1945-1949, gugur saat mencoba mempertahankan lapangan Maguwo.

Setelah tak ada perlawanan, salah satu pesawat menerjunkan pasukan penerjun Korps Speciale Troepen (KST) dan pasukan Brigade T. Kedua pasukan langsung berkoordinasi untuk menjadikan Maguwo sebagai basis pertahanan.

Serangan ke Maguwo merupakan menu pembuka. Jenderal Simon Hendrik Spoor kemudian memerintahkan pesawat pemburu menyerbu jantung kota Yogyakarta dengan sandi “KRAAI Operation” atau “Sandi Gagak”.

Dari udara, pesawat mengincar jembatan dan objek vital lainnya. Hal itu memungkinkan pergerakan pasukan di darat mudah untuk memasuki kota.

Pasukan Belanda kemudian bergerak dari dua penjuru. Satu rombongan masuk melalui jalur Solo dan Wonosari, sementara lainnya dari arah utara. Jumlah pasukan Belanda pada serangan ini tercatat turun palagan sebanyak 138.000 serdadu.

Operasi Gagak terbukti ampuh dalam sekejap menguasai kota Yogyakarta. Keberhasilan pasukan Belanda menguasai Yogyakarta karena persenjataan dan amunisi nan canggih dan serangan mendadak nan cepat masuk ke jantung kota.

Dengan gegabah, militer Belanda mengabarkan para petinggi Indonesia, termasuk Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta, juga Jenderal Soedirman berhasil ditawan. Namun, kabar tersebut mentah lantaran Jenderal Soedirman masih terbaring sakit di rumahnya dengan penjagaan para laskar. Serangan balik pun segera berlangsung.

Soal

1. Dengan mempertimbangkan informasi di atas, sebutkan 4 alasan mengapa serangan Belanda berjalan optimal hingga mampu masuk ke pusat kota Yogyakarta?

Jawaban

  1. Melakukan serangan di pagi buta, jam 05.00, saat para pejuangan belum sepenuhnya bersiap.
  2. Berhasil menguasai lapangan udara Maguwo, lokasi strategis untuk membuat basis pertahanan.
  3. Serangan udara berhasil menghancurkan objek vital untuk memudahkan pasukan darat bergerak menuju pusat kota Yogyakarta.
  4. Belanda melakukan serangan cepat dan menggunakan persenjataan dan amunisi tercanggih.

2. Dari informasi dan data pada artikel Operasi Gagak, meski pasukan Belanda telah berhasil mencapai pusat kota, mengapa para pejuang dan laskar tetap melanjutkan perjuangan?

Jawaban

  1. Serangan pasukan Belanda terbukti membuat lapangan terbang Maguwo porak poranda dan berhasil direbut menjadi basis pertahanan. Objek vital pun lumpuh. Di darat, pasukan Belanda merangsek dari dua arah. Pasukan Belanda pun dengan cepat berhasil mencapai kota Yogyakarta dan menyatakan telah menawan para petinggi Indonesia.

Meski begitu, Belanda justru salah kaprah. Para pejuang dan laskar justru berada dekat dengan sang pemimpin perang, Jenderal Soedirman. Mereka mengetahui berita Belanda bohong. Tak heran, bila semangat para pejuang malah semakin meninggi karena sang jenderal berada bersama mereka.

Perang Gerilya Jenderal Soedirman

Berita Belanda menawan para pemimpin Indonesia cepat terbantah pihak republik. Para pejuang dan laskar langsung menerima kabar terkini dari siaran Radio Republik Indonesia. Lewat corong radio, penyiar mengabarkan keberadaan Jenderal Soedirman, pemimpin perjuangan. “Pak Dirman ada di tengah-tengah kita! Pak Dirman memimpin kita! Hidup Pak Dirman!”

Sebelumnya, ketika lapangan udara Maguwo diserbu pasukan Belanda, Soedirman telah menerima keadaan serbuan tersebut. Pak Dirman sesegera mungkin pergi menemui para pemimpin di pusat kota. Ia menemui Bung Karno, meminta seluruh petinggi untuk mengungsi karena Belanda telah memulai serangan. Namun, Presiden Soekarno menolak karena masih berharap bisa melakukan diplomasi agar kontak senjata tak terjadi.

Soedirman tetap meyakinkan, namun Soekarno pun bersikeras. Tak sepakat, Soedirman pun memutuskan turun palagan menghadapi musuh. Jenderal Besar Soedirman lantas mengeluarkan perintah kepada seluruh pejuang untuk melakukan Perang Gerilya Semesta, melalui surat ketetapan Perintah Siasat Nomor 1/STOP/5/48. Hidup atau mati seluruh rakyat harus berjuang berhadapan langsung dengan kekuatan penuh pasukan Belanda bersenjata canggih.

Saat itu, kondisi fisik Soedirman sejatinya masih belum pulih seratus persen. Ia baru saja menjalani operasi dan hanya hidup dengan satu paru-paru. Namun, semangatnya tak pernah pudar. Dalam kondisi rapuh, Soedirman mengajak para pejuang meninggalkan kota untuk bertempur di hutan wilayah Jawa Timur.

Langkah tersebut memang taktik paling ampuh untuk menghadapi kecanggihan persenjatan lawan. Belanda dipaksa berjuang di medan menyulitkan persenjataan tempur berat masuk hutan. Sementara, para pejuang akan menyerang menggunakan strategi hit and run, memukul lawan selagi lengah dan segera menghindar untuk kembali bersembunyi.

Taktik Soedirman terbukti ampuh. Pasukan Belanda terengah-engah menghadapi para pejuang dan tak pernah berhasil menangkap Jenderal Soedirman.

Soal

  1. Informasi di atas memberikan gambaran meski Belanda menggunakan pasukan dengan peralatan tercanggih, tetap tak berhasil menangkap Jenderal Soedirman yang hidup hanya dengan separuh paru-paru. Sebutkan dua alasan mengapa strategi Belanda gagal?

Jawaban

  1. Pertama, karena peralatan canggih dan senjata berat seperti tank terbukti tak cocok untuk pertempuran hutan. Pesawat-pesawat bobardemen Belanda pun kesulitan melacak keberadaan para pejuang dan Jenderal Soedirman lantaran terhalang pohon lebat. Hal itu masih ditambah medan hutan nan sulit dan terjal. Belanda pun tak memiliki pengetahuan mumpuni terhadap wilayah tersebut.
  2. Sebaliknya, kesuksesan strategi perang gerilya Jenderal Soedirman karena mampu menguasai medan. Menyerang saat pasukan Belanda lengah dan kembali secepat mungkin untuk bersembunyi. Persembunyian para pejuang sulit dilacak karena kondisi hutan nan lebat. Alhasil, Belanda kesulitan dan tak pernah berhasil menangkap Jenderal Soedirman.

Well guys, berikut contoh soal sejarah mengandung HOTS beserta pembahasan materinya. Kamu masih belum puas dengan soal-soal HOTS di atas? Tenang, karena di Quipper Blog masih ada banyak contoh soal sejarah mengandung HOTS lainnya yang bisa kamu kerjakan. Enggak cuma sejarah, materi pelajaran lain pun ada, lho. Buruan klik link-nya!

Penulis: Rahmat Ali